DMAIC Problem Solving dalam Peningkatan Bisnis

DMAIC Problem Solving dalam Peningkatan Bisnis, merupakan tulisan yang akan kita bahas kali ini.
Karena Six Sigma merupakan metodologi manajemen yang fokus pada peningkatan kualitas produk dan proses bisnis melalui pengurangan variasi dan eliminasi cacat. Dan DMAIC merupakan kerangka kerja yang digunakan dalam Six Sigma untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah bisnis. Keduanya bekerja sama dalam menciptakan perbaikan bisnis yang signifikan dan membantu perusahaan mencapai tingkat keuntungan yang lebih tinggi.

DMAIC Problem Solving dalam Peningkatan Bisnis

Hai Sobat Pembaca yang hebat! Pernahkah Anda mendengar istilah DMAIC?

Tenang, di artikel kali ini kita akan membahasnya dengan gaya bahasa yang santai dan hangat, sehingga Anda akan merasa seperti sedang berbincang dengan teman lama. Jadi, mari kita mulai perjalanan kita mengenal DMAIC dalam peningkatan bisnis!

DMAIC adalah singkatan dari Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control. Metode ini merupakan salah satu pendekatan yang populer dan efektif dalam pemecahan masalah dan peningkatan proses bisnis.

Kali ini, kita akan membahas contoh aplikasi DMAIC pada perusahaan kelas dunia dan aplikatif bagi perusahaan Indonesia. Selain itu, kita akan memberikan contoh angka yang relevan dan kredibel tahap demi tahapan DMAIC pada contoh Business Improvement.

Siap untuk melanjutkan perjalanan kita? Ayo, kita mulai!

DMAIC dalam Business Improvement Sebagai contoh, mari kita lihat perusahaan kelas dunia, General Electric (GE). Perusahaan ini berhasil meningkatkan efisiensi produksi mereka sebesar 50% dengan mengaplikasikan DMAIC. Lantas, bagaimana tahap demi tahap DMAIC diterapkan dalam perbaikan bisnis GE?

  1. Define (Definisi): Pertama, GE mengidentifikasi masalah, yaitu tingginya waktu tunggu dalam proses produksi. Mereka kemudian menetapkan tujuan untuk mengurangi waktu tunggu ini.
  2. Measure (Pengukuran): GE mengumpulkan data tentang waktu tunggu di setiap tahap produksi. Mereka menemukan bahwa waktu tunggu rata-rata adalah 10 menit.
  3. Analyze (Analisis): Setelah menganalisis data, GE menemukan bahwa salah satu penyebab utama waktu tunggu adalah mesin yang sering mengalami kerusakan. Mereka juga menemukan bahwa perawatan mesin tidak dilakukan secara rutin.
  4. Improve (Perbaikan): GE kemudian melakukan perbaikan dengan meningkatkan perawatan mesin secara rutin dan mengganti komponen yang sering rusak. Ini mengurangi waktu tunggu menjadi 5 menit.
  5. Control (Pengendalian): Untuk memastikan perbaikan berkelanjutan, GE mengimplementasikan sistem pemantauan yang memungkinkan mereka untuk melacak kinerja mesin secara real-time. Contoh ini menunjukkan betapa DMAIC dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi dan produktivitas mereka.

Tentu saja, metode ini juga sangat aplikatif untuk perusahaan Indonesia. Misalnya, sebuah perusahaan manufaktur lokal bisa mengadopsi DMAIC untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan kualitas produk mereka. Salah satu contoh perusahaan Indonesia yang berhasil menerapkan DMAIC adalah perusahaan konsumen XYZ (nama samaran).

Baca lainnya ?  Lean Six Sigma: Hapus Pemborosan, Tingkatkan Efisiensi Bisnis

Dalam kasus ini, mereka berhasil mengurangi biaya produksi sebesar 30% dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Define: Perusahaan XYZ mengidentifikasi masalah, yaitu tingginya biaya bahan baku dan energi dalam proses produksi.
  2. Measure: Mereka mengumpulkan data tentang biaya bahan baku dan energi, dan menemukan bahwa biaya rata-rata per unit adalah Rp10.000. 3. Analyze: Setelah menganalisis data, perusahaan XYZ menemukan bahwa salah satu penyebab biaya tinggi adalah pemborosan bahan baku dan energi.
  3. Improve: Perusahaan XYZ kemudian melakukan perbaikan dengan mengurangi pemborosan bahan baku dan energi, seperti mengganti mesin yang boros energi dan melatih karyawan untuk bekerja lebih efisien. Hasilnya, biaya per unit turun menjadi Rp7.000.
  4. Control: Untuk memastikan perbaikan berkelanjutan, perusahaan XYZ mengimplementasikan sistem pemantauan yang memungkinkan mereka untuk melacak penggunaan bahan baku dan energi secara real-time.

Contoh ini menunjukkan bagaimana DMAIC tidak hanya efektif untuk perusahaan kelas dunia, tetapi juga bagi perusahaan lokal di Indonesia. Dengan menerapkan DMAIC, perusahaan Indonesia dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi biaya, dan menjaga kualitas produk tetap tinggi.

Nah, Sobat Pembaca, itulah penjelasan singkat mengenai DMAIC dalam peningkatan bisnis beserta contoh aplikasinya pada perusahaan kelas dunia dan lokal. Semoga contoh-contoh yang telah disampaikan tadi dapat membantu Anda lebih memahami bagaimana DMAIC bekerja dalam prakteknya. Tentunya, metode ini tidak hanya terbatas pada industri manufaktur, tetapi juga berlaku pada berbagai sektor bisnis lainnya.


“Lupakan cara lama yang tidak efektif, daftarlah sekarang bersama PT MITRA PRIMA PRODUKTIVITAS dan COACH WAWANG untuk meraih sukses lebih mudah!”


Six Sigma dalam Business Improvement

Halo Sobat Pembaca yang luar biasa!

Kali ini, kita akan membahas tentang Six Sigma, sebuah konsep yang mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang.

Six Sigma adalah metodologi manajemen yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk atau proses bisnis dengan mengurangi variasi dan mengeliminasi cacat. Metodologi ini menggunakan pendekatan statistik untuk mengukur kinerja suatu proses dan menghitung tingkat kualitas berdasarkan jumlah cacat per juta peluang (DPMO). Di sini, istilah “Sigma” merujuk pada tingkat kualitas atau jumlah cacat.

Dalam konteks Six Sigma, ada beberapa tingkatan kualitas yang diukur dalam skala Sigma, mulai dari 1 Sigma hingga 6 Sigma:

  • 1 Sigma: Di tingkat ini, proses memiliki 691.462 cacat per juta peluang (DPMO). Artinya, kualitas produk atau layanan sangat rendah, dengan sekitar 69,1% produk atau layanan yang cacat.
  • 2 Sigma: Di tingkat ini, proses memiliki 308.538 cacat per juta peluang (DPMO). Kualitas produk atau layanan meningkat, tetapi masih terdapat sekitar 30,9% produk atau layanan yang cacat.
  • 3 Sigma: Di tingkat ini, proses memiliki 66.807 cacat per juta peluang (DPMO). Kualitas produk atau layanan lebih baik, dengan sekitar 6,7% produk atau layanan yang cacat.
  • 4 Sigma: Di tingkat ini, proses memiliki 6.210 cacat per juta peluang (DPMO). Kualitas produk atau layanan cukup baik, dengan hanya sekitar 0,62% produk atau layanan yang cacat.
  • 5 Sigma: Di tingkat ini, proses memiliki 233 cacat per juta peluang (DPMO). Kualitas produk atau layanan sangat baik, dengan hanya sekitar 0,023% produk atau layanan yang cacat.
  • 6 Sigma: Di tingkat ini, proses memiliki 3,4 cacat per juta peluang (DPMO). Kualitas produk atau layanan hampir sempurna, dengan hanya sekitar 0,00034% produk atau layanan yang cacat.
Baca lainnya ?  Implementasi Preventive Maintenance menurut JIPM

Lalu, bagaimana Six Sigma bisa membantu peningkatan kinerja perusahaan sehingga tingkat keuntungannya begitu signifikan? Six Sigma membantu perusahaan untuk:

  1. Mengidentifikasi dan mengurangi variasi dalam proses bisnis, yang pada gilirannya mengurangi cacat dan meningkatkan kualitas produk atau layanan.
  2. Mengurangi biaya yang terkait dengan cacat produk atau layanan, seperti biaya perbaikan, pengembalian, dan klaim garansi.
  3. Meningkatkan kepuasan pelanggan, karena mereka menerima produk atau layanan yang lebih berkualitas.
  4. Meningkatkan efisiensi operasional, karena proses yang lebih baik akan mengurangi pemborosan sumber daya dan waktu.
  5. Mendorong budaya perbaikan berkelanjutan dalam perusahaan, di mana setiap karyawan terlibat dalam upaya meningkatkan proses bisnis dan kualitas produk atau layanan.

Contoh nyata penerapan Six Sigma yang berhasil meningkatkan keuntungan perusahaan adalah kasus General Electric (GE). Di bawah kepemimpinan Jack Welch, GE mengadopsi Six Sigma pada tahun 1995 dan berhasil menghemat biaya sekitar $12 miliar dalam lima tahun pertama penerapannya. Ini terjadi karena Six Sigma membantu GE mengurangi variasi dalam proses bisnis, mengurangi cacat, dan meningkatkan kualitas produk dan layanan yang mereka tawarkan.

Sebagai contoh lebih spesifik, mari kita lihat perusahaan manufaktur yang berhasil meningkatkan kualitas produk mereka dari tingkat 4 Sigma ke tingkat 6 Sigma. Pada tingkat 4 Sigma, perusahaan tersebut memiliki 6.210 cacat per juta peluang (DPMO). Namun, setelah menerapkan Six Sigma, mereka berhasil mengurangi cacat menjadi hanya 3,4 per juta peluang (DPMO) di tingkat 6 Sigma.

Dengan mengurangi cacat sebanyak ini, perusahaan tersebut dapat mengurangi biaya yang terkait dengan perbaikan produk, pengembalian, dan klaim garansi. Selain itu, kepuasan pelanggan meningkat, yang pada gilirannya berdampak positif pada penjualan dan reputasi perusahaan. Oleh karena itu, peningkatan keuntungan perusahaan menjadi signifikan setelah penerapan Six Sigma.

Jadi, Sobat Pembaca, itulah bagaimana Six Sigma, dengan bantuan kerangka kerja DMAIC, dapat membantu perusahaan meningkatkan kinerja mereka dan mencapai tingkat keuntungan yang signifikan. Semoga informasi ini dapat membantu Anda memahami betapa pentingnya penerapan metodologi Six Sigma dalam peningkatan bisnis. Ingat, keberhasilan perusahaan Anda bisa dimulai dari langkah-langkah kecil untuk mencapai tingkat kualitas yang lebih baik.


“Jangan menunda lagi untuk memperbaiki produktivitas dan profitabilitasmu, ayo gabung bersama PT MITRA PRIMA PRODUKTIVITAS dan COACH WAWANG sekarang!”


Hubungannya DMAIC dengan Six Sigma dan Business Improvement

Nah, sekarang kita balik lagi. Namun kita gabungkan dan selaraskan pemahaman kita pada tiga kontek berkut: DMAIC, Six Sigma, dan Business Improvement.

Baca lainnya ?  Optimalkan Racking, FIFO, dan Inventory ABC dalam WMS

Apa hubungannya DMAIC dengan Six Sigma dan Business Improvement? Ini pertanyaan yang sering muncul di saat pelatihan LEAN BUSINESS IMPROVEMENT yang kami adakan. Tepat. Ini adalah tentang buku ke-10 yang ditulis oleh Wawang Sukmoro.

Six Sigma adalah sebuah metodologi manajemen yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk atau proses bisnis dengan mengurangi variasi dan mengeliminasi cacat. Sedangkan DMAIC, yang telah kita bahas sebelumnya, merupakan sebuah kerangka kerja yang digunakan dalam Six Sigma untuk memecahkan masalah dan meningkatkan proses bisnis. Jadi, DMAIC adalah salah satu komponen utama dalam metodologi Six Sigma.

Mari kita lihat contoh bagaimana DMAIC dan Six Sigma bekerja sama dalam peningkatan bisnis. Sebuah perusahaan manufaktur ingin meningkatkan kualitas produk mereka dengan mengurangi jumlah cacat. Mereka menggunakan pendekatan Six Sigma dan menerapkan kerangka kerja DMAIC sebagai berikut:

  1. Define (Definisi): Perusahaan tersebut menetapkan tujuan untuk mengurangi cacat produk dari 10% menjadi 2%.
  2. Measure (Pengukuran): Mereka mengukur jumlah cacat produk saat ini dan menemukan bahwa rata-rata 10% produk yang diproduksi memiliki cacat.
  3. Analyze (Analisis): Setelah menganalisis data, perusahaan menemukan bahwa penyebab utama cacat adalah kesalahan dalam proses pengelasan.
  4. Improve (Perbaikan): Perusahaan kemudian melakukan perbaikan, seperti melatih karyawan dalam teknik pengelasan yang benar dan memperbaiki peralatan yang rusak. Hasilnya, cacat produk berkurang menjadi 3%.
  5. Control (Pengendalian): Untuk memastikan perbaikan berkelanjutan, perusahaan mengimplementasikan sistem pemantauan kualitas produk dan proses pengelasan secara berkala.

Dalam contoh ini, perusahaan berhasil meningkatkan kualitas produk mereka dengan menerapkan metodologi Six Sigma dan menggunakan kerangka kerja DMAIC. Dengan mengurangi cacat produk dari 10% menjadi 2%, perusahaan tersebut mampu menghemat biaya produksi dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Jadi, Sobat Pembaca, hubungan antara DMAIC dan Six Sigma adalah sebagai berikut: DMAIC merupakan kerangka kerja yang digunakan dalam metodologi Six Sigma untuk membantu perusahaan mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah dalam proses bisnis mereka. Keduanya bekerja sama untuk mencapai peningkatan bisnis yang signifikan, seperti yang telah diilustrasikan dalam contoh di atas.

Semoga penjelasan ini membantu Anda memahami hubungan antara DMAIC dan Six Sigma dalam konteks peningkatan bisnis. Jangan ragu untuk menggali lebih dalam mengenai topik ini, karena banyak pengetahuan dan wawasan yang bisa Anda dapatkan untuk membantu bisnis Anda berkembang!

Dan Anda bisa terus belajar bersama dengan kami di jagokaizen.com dan Coach Wang.

Ingin mempelajari secara langsung dan privat mengenai LEAN Business Improvement
dan Lean Six Sigma?

Bersama Coach Wang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Kontak Coach Wang