Lean Inventory Management

Lean Inventory Management atau LIM merupakan kunci efisiensi dan responsivitas bisnis merupakan hal penting yang banyak diabaikan oleh sebagian orang.

Apa Manfaatnya Menerapkan Lean Inventory Management?

Apakah Anda pernah berpikir tentang bagaimana Anda bisa mengurangi biaya dan meningkatkan responsivitas bisnis Anda melalui pengelolaan persediaan yang lebih baik? Ya, Anda tidak sendirian. Banyak perusahaan mencari cara untuk mengoptimalkan proses mereka dan mengurangi pemborosan dalam rantai pasokan. Salah satu pendekatan yang telah terbukti efektif adalah Lean Inventory Management. Tapi apa sebenarnya itu, dan bagaimana cara kerjanya? Mari kita jelajahi lebih lanjut.

Apa Itu Lean Inventory Management?

Lean Inventory Management adalah pendekatan yang berfokus pada pengurangan pemborosan dalam pengelolaan persediaan dan peningkatan efisiensi serta responsivitas. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Lean, perusahaan dapat mengurangi biaya penyimpanan, menurunkan tingkat stok yang tidak perlu, dan meningkatkan kecepatan dalam memenuhi permintaan pelanggan. Sounds interesting, right?

Strategi Pengelolaan Persediaan Secara LEAN!

Ada beberapa strategi yang dapat diterapkan dalam pengelolaan persediaan Lean. Berikut ini beberapa di antaranya:

  1. Just-In-Time (JIT) Inventory. JIT adalah pendekatan di mana persediaan dipesan dan dikirim hanya ketika dibutuhkan, sehingga mengurangi kebutuhan untuk menyimpan stok berlebih. Contoh: Sebuah pabrik kosmetik dapat menyesuaikan jadwal produksinya untuk mengakomodasi permintaan pelanggan yang fluktuatif, sehingga mengurangi persediaan produk jadi yang tidak terjual.
  2. Pengelolaan Persediaan Berbasis Peramalan. Dengan menggunakan data historis dan tren pasar, perusahaan dapat membuat perkiraan yang lebih akurat tentang permintaan produk. Hal ini membantu perusahaan mengurangi pemborosan dan meningkatkan efisiensi rantai pasokan.
  3. Pengelolaan Persediaan Berbasis Konsinyasi. Dalam sistem ini, pemasok menyimpan persediaan di gudang perusahaan, dan perusahaan hanya membayar untuk barang yang telah dijual atau digunakan. Ini mengurangi risiko stok berlebih dan meningkatkan efisiensi pengelolaan persediaan.
  4. Mengurangi Variasi Produk. Dengan mengurangi jumlah variasi produk yang ditawarkan, perusahaan dapat mengurangi kompleksitas dalam pengelolaan persediaan dan meningkatkan efisiensi.
  5. Kolaborasi dengan Pemasok dan Pelanggan. Bekerja sama dengan pemasok dan pelanggan dapat membantu perusahaan meningkatkan visibilitas persediaan, memperbaiki perencanaan, dan mengurangi biaya penyimpanan.

Bagaimana Lean Inventory Management Dapat Meningkatkan Responsivitas

Contoh Kasus Bisnis pada sebuah perusahaan kosmetik menghadapi masalah dengan persediaan produk jadi yang tidak terjual.

Mereka menyadari bahwa mereka perlu meningkatkan responsivitas mereka terhadap perubahan permintaan pasar. Dengan menerapkan strategi Lean Inventory Management, seperti JIT dan pengelolaan persediaan berbasis peramalan, perusahaan tersebut berhasil menurunkan tingkat persediaan berlebih, mengurangi biaya penyimpanan, dan meningkatkan kecepatan dalam memenuhi permintaan pelanggan.


“Dapatkan bimbingan ahli dalam meningkatkan kinerja rantai pasokmu bersama PT Mitra Prima Produktivitas, konsultan LEAN Supply Chain Management ternama di Indonesia dengan fasilitor dan trainer berlisensi Internasional,
dan tingkatkan profitabilitas bisnismu dengan kualitas kinerja rantai pasok yang optimal!”


Manfaat Lean Inventory Management

Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari penerapan Lean Inventory Management:

  1. Biaya Penyimpanan yang Lebih Rendah. Dengan mengurangi persediaan berlebih, perusahaan dapat menghemat biaya penyimpanan dan mengalokasikan sumber daya tersebut untuk area bisnis lain yang membutuhkan perhatian.
  2. Peningkatan Responsivitas. Dengan lebih cepat merespon perubahan permintaan pasar, perusahaan dapat memastikan bahwa mereka selalu memiliki produk yang dibutuhkan pelanggan, sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan dan retensi.
  3. Mengurangi Risiko Kehilangan Penjualan. Dengan persediaan yang lebih efisien, perusahaan dapat mengurangi risiko kehabisan stok, yang dapat menyebabkan kehilangan penjualan dan reputasi yang buruk.
  4. Peningkatan Efisiensi Rantai Pasokan. Dengan mengoptimalkan proses pengelolaan persediaan, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi rantai pasokan secara keseluruhan, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada laba.
  5. Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik. Dengan informasi yang lebih akurat tentang permintaan produk dan tingkat persediaan, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih baik tentang produksi, pengadaan, dan pengelolaan sumber daya.
Baca lainnya ?  SENI OPTIMALISASI LOGISTIK 3PL

Tips dan Trik untuk Implementasi Lean Inventory Management

Berikut beberapa tips dan trik yang dapat membantu Anda dalam mengimplementasikan Lean Inventory Management:

  • Keterlibatan Karyawan. Pastikan bahwa seluruh tim Anda terlibat dalam proses implementasi Lean Inventory Management. Ini akan membantu meningkatkan pemahaman tentang pendekatan ini dan memastikan dukungan dari seluruh organisasi.
  • Pelatihan dan Pendidikan. Berikan pelatihan dan pendidikan yang diperlukan untuk memastikan bahwa semua anggota tim memahami prinsip-prinsip Lean dan bagaimana menerapkannya dalam pengelolaan persediaan.
  • Pengukuran dan Evaluasi. Tetapkan KPI yang jelas untuk mengukur kemajuan dalam penerapan Lean Inventory Management. Evaluasi secara berkala dan buat perubahan yang diperlukan untuk terus meningkatkan efisiensi dan responsivitas.
  • Komunikasi yang Efektif. Pastikan bahwa komunikasi antara pemasok, pelanggan, dan tim internal Anda berjalan lancar. Ini akan membantu memastikan bahwa semua pihak memiliki informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan yang tepat.
  • Terus Meningkatkan. Lean Inventory Management adalah proses yang berkelanjutan. Terus cari cara untuk mengoptimalkan proses pengelolaan persediaan dan mengurangi pemborosan.

Dengan menerapkan Lean Inventory Management, Anda akan melihat peningkatan signifikan dalam efisiensi dan responsivitas bisnis Anda.

Selamat mencoba, dan semoga sukses dalam perjalanan menuju pengelolaan persediaan yang lebih ramping dan efisien! Ingat, langkah-langkah kecil menuju perubahan dapat menghasilkan dampak yang signifikan dalam jangka panjang. Tetap fokus pada peningkatan berkelanjutan, dan Anda akan melihat bisnis Anda berkembang dan mencapai tingkat keberhasilan yang lebih tinggi. Selamat berinovasi dan mengoptimalkan pengelolaan persediaan Anda!


“Dapatkan solusi terbaik untuk meningkatkan profitabilitas bisnismu dengan PT Mitra Prima Produktivitas, konsultan LEAN Supply Chain Management ternama di Indonesia dengan fasilitor dan trainer berlisensi Internasional,
dan tingkatkan kinerja rantai pasokmu dengan bantuan ahli!”


Pengelolaan Inventory Model ABC Berdasarkan Nilai

Model ABC adalah teknik pengelolaan persediaan yang digunakan untuk mengkategorikan item persediaan berdasarkan nilai penggunaannya. Model ini mengelompokkan item ke dalam tiga kategori: A, B, dan C, di mana item dalam kategori A memiliki nilai penggunaan tertinggi, sedangkan item dalam kategori C memiliki nilai penggunaan terendah. Berikut adalah penjelasan mendalam tentang masing-masing kategori:

1. Kategori A

Item dalam kategori ini adalah barang-barang berharga yang memberikan kontribusi signifikan terhadap total pendapatan dan laba perusahaan. Biasanya, sekitar 20% dari jumlah item persediaan akan termasuk dalam kategori ini, tetapi akan menghasilkan sekitar 70-80% dari total nilai persediaan.

Contoh: Sebuah perusahaan memiliki 100 item persediaan dengan total nilai $100.000. Dalam kategori A, ada 20 item (20% dari jumlah item) dengan total nilai $80.000 (80% dari total nilai persediaan).

2. Kategori B

Item dalam kategori ini memiliki nilai penggunaan menengah dan biasanya mencakup sekitar 30% dari jumlah item persediaan. Meskipun demikian, mereka berkontribusi sekitar 15-25% dari total nilai persediaan.

Contoh: Dari 100 item persediaan yang sama, 30 item (30% dari jumlah item) termasuk dalam kategori B dengan total nilai $20.000 (20% dari total nilai persediaan).

3. Kategori C

Item kategori C adalah item yang memiliki nilai penggunaan terendah dan mencakup sekitar 50% dari jumlah item persediaan. Namun, mereka hanya berkontribusi sekitar 5% dari total nilai persediaan.

Contoh: Dari 100 item persediaan yang sama, 50 item (50% dari jumlah item) termasuk dalam kategori C dengan total nilai $5.000 (5% dari total nilai persediaan).

Pengelolaan Inventory Model ABC berdasarkan nilai ini memungkinkan perusahaan untuk fokus pada item kategori A yang memiliki dampak terbesar pada laba dan pendapatan perusahaan. Dengan mengoptimalkan pengelolaan persediaan untuk item kategori A, perusahaan dapat mengurangi biaya persediaan dan meningkatkan efisiensi operasional.

Untuk mengimplementasikan Model ABC, perusahaan harus:

  1. Mengidentifikasi dan mengkategorikan item persediaan berdasarkan nilai penggunaannya.
  2. Memonitor dan mengendalikan persediaan dengan lebih efektif, terutama untuk item kategori A.
  3. Menetapkan tingkat pelayanan dan kebijakan persediaan yang berbeda untuk setiap kategori, seperti frekuensi pemesanan, lead time, dan tingkat stok keselamatan.
  4. Secara berkala meninjau kategori item persediaan dan mengubah kebijakan pengelolaan persediaan sesuai dengan perubahan nilai dan prioritas item.
Baca lainnya ?  Supplier Quality Improvement pada Operasi SCM

Dengan menggunakan Model ABC, perusahaan dapat mengurangi biaya persediaan dan meningkatkan efisiensi operasional melalui langkah-langkah berikut:

  1. Fokus pada pengelolaan item kategori A yang memiliki dampak terbesar pada laba dan pendapatan perusahaan. Hal ini memastikan bahwa sumber daya perusahaan dialokasikan dengan bijaksana dan mengurangi risiko kekurangan stok pada item kunci.
  2. Mengoptimalkan kebijakan pengelolaan persediaan untuk setiap kategori, seperti menetapkan frekuensi pemesanan yang lebih tinggi dan lead time yang lebih pendek untuk item kategori A, dan mengurangi frekuensi pemesanan serta meningkatkan lead time untuk item kategori C. Ini akan membantu mengurangi biaya persediaan dan meningkatkan responsivitas terhadap perubahan permintaan.
  3. Secara berkala meninjau kategori item persediaan dan mengubah kebijakan pengelolaan persediaan sesuai dengan perubahan nilai dan prioritas item. Dengan melakukan ini, perusahaan akan selalu up-to-date dengan kebutuhan pasar dan dapat menyesuaikan strategi persediaan sesuai kebutuhan.
  4. Mengintegrasikan sistem informasi dan teknologi untuk mendukung pengelolaan persediaan Model ABC, seperti sistem manajemen persediaan, perencanaan sumber daya perusahaan (ERP), dan alat analitik yang canggih. Dengan informasi yang akurat dan tepat waktu, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih baik dan mengurangi ketidakpastian dalam pengelolaan persediaan.

Pengelolaan Inventory Turnover Model XYZ

Sebelum membahas model XYZ, kita perlu memahami apa itu Inventory Turnover (ITO). ITO adalah metrik yang mengukur jumlah kali perusahaan menjual dan menggantikan persediaannya dalam periode tertentu, biasanya dalam setahun. ITO memberikan gambaran tentang seberapa efisien perusahaan dalam mengelola persediaan dan menghasilkan penjualan.

Model XYZ merupakan metode lain dalam pengelolaan persediaan yang fokus pada tingkat perputaran persediaan. Dalam model ini, barang-barang dikategorikan menjadi tiga kelompok berdasarkan kecepatan perputaran persediaan: X untuk putaran transaksi cepat, Y untuk sedang, dan Z untuk lambat. Berikut adalah penjelasan lebih mendalam tentang masing-masing kategori dan contoh:


“Tingkatkan kualitas kinerja rantai pasokmu bersama PT Mitra Prima Produktivitas, konsultan LEAN Supply Chain Management ternama di Indonesia dengan fasilitor dan trainer berlisensi Internasional,
dan dapatkan solusi terbaik untuk meningkatkan profitabilitas bisnismu!”


Kategori X: Putaran Transaksi Cepat

Item dalam kategori X memiliki perputaran persediaan yang sangat cepat. Produk-produk ini biasanya memiliki permintaan yang tinggi dan persediaan yang rendah.

Contoh: sebuah perusahaan kosmetik menjual lipstik dengan total penjualan tahunan sebesar $1.000.000 dan biaya persediaan rata-rata sebesar $250.000. Maka, ITO untuk lipstik ini adalah 4 (1.000.000 / 250.000).

Kategori Y: Putaran Transaksi Sedang

Item dalam kategori Y memiliki perputaran persediaan yang moderat. Produk ini memiliki permintaan yang stabil dan persediaan yang cukup.

Contoh: perusahaan kosmetik yang sama menjual pelembab dengan total penjualan tahunan sebesar $500.000 dan biaya persediaan rata-rata sebesar $200.000. Maka, ITO untuk pelembab ini adalah 2,5 (500.000 / 200.000).

Kategori Z: Putaran Transaksi Lambat

Item dalam kategori Z memiliki perputaran persediaan yang lambat. Produk-produk ini biasanya memiliki permintaan yang rendah dan persediaan yang tinggi.

Contoh: perusahaan kosmetik tersebut menjual bedak tabur dengan total penjualan tahunan sebesar $100.000 dan biaya persediaan rata-rata sebesar $50.000. Maka, ITO untuk bedak tabur ini adalah 2 (100.000 / 50.000).

Mengelola persediaan berdasarkan model XYZ memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien dan memprioritaskan produk yang memiliki perputaran persediaan yang lebih cepat. Dengan demikian, perusahaan dapat mengurangi biaya persediaan dan meningkatkan laba.

Keuntungan implementasi tandem Model ABC dan XYZ

Menggabungkan Model ABC dan XYZ dalam pengelolaan inventory memungkinkan perusahaan untuk mengoptimalkan prosesnya dan mencapai efisiensi yang lebih tinggi dalam mengelola persediaan. Berikut ini adalah beberapa keuntungan dari implementasi pengelolaan inventory tandem Model ABC dan XYZ:

  • Pengelolaan Persediaan yang Lebih Efisien

Dengan menggunakan kedua model ini secara bersamaan, perusahaan dapat mengidentifikasi produk yang memiliki nilai tinggi dan perputaran cepat (Kategori AX), nilai rendah dan perputaran lambat (Kategori CZ), serta kombinasi lainnya. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan sumber daya dengan lebih efisien dan memprioritaskan produk yang lebih penting.

Baca lainnya ?  Total Productive Management

Contoh: Perusahaan kosmetik memiliki 100 SKU produk dengan berbagai tingkat perputaran persediaan dan nilai. Setelah menganalisis data, perusahaan menemukan bahwa 20 SKU termasuk dalam Kategori AX (nilai tinggi, perputaran cepat) dan 10 SKU termasuk dalam Kategori CZ (nilai rendah, perputaran lambat).


“Raih kesuksesanmu sebagai pelaku bisnis yang handal dengan bantuan PT Mitra Prima Produktivitas, konsultan LEAN Supply Chain Management ternama di Indonesia dengan fasilitor dan trainer berlisensi Internasional,
dan optimalisasi kinerja rantai pasokmu!”


  • Pengendalian Persediaan yang Lebih Baik

Dengan menggabungkan Model ABC dan XYZ, perusahaan dapat menetapkan tingkat persediaan yang lebih tepat untuk masing-masing kategori produk. Hal ini akan mengurangi biaya persediaan, meminimalkan kelebihan stok, dan mengurangi risiko kekurangan stok.

Contoh: Perusahaan kosmetik tersebut memutuskan untuk menjaga persediaan SKU Kategori AX pada tingkat yang lebih rendah (misalnya, 2 minggu persediaan) karena perputaran cepat dan menetapkan tingkat persediaan yang lebih tinggi untuk SKU Kategori CZ (misalnya, 8 minggu persediaan) karena perputaran lambat.

  • Peningkatan Laba

Dengan mengoptimalkan pengelolaan persediaan menggunakan Model ABC dan XYZ, perusahaan dapat mengurangi biaya persediaan, meningkatkan efisiensi, dan pada akhirnya meningkatkan laba.

Contoh: Perusahaan kosmetik tersebut berhasil mengurangi biaya persediaan sebesar 10% dengan mengimplementasikan Model ABC dan XYZ. Dalam bisnis dengan penjualan tahunan sebesar $2.000.000 dan biaya persediaan sebelumnya sebesar $500.000, penghematan 10% ini setara dengan $50.000 per tahun.

Dalam implementasi pengelolaan inventory tandem Model ABC dan XYZ, perusahaan dapat memanfaatkan keunggulan kedua metode ini untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi, mengurangi biaya, dan meningkatkan laba.

Pengelolaan Inventory yang Efektif dalam Gudang

Pengelolaan inventory yang efektif melibatkan berbagai aspek, termasuk material handling dan racking activities. Material handling adalah proses pengelolaan bahan dan produk yang mencakup pemuatan, pengangkutan, penyimpanan, dan pengeluaran. Racking activities melibatkan penataan dan penyimpanan produk di rak atau sistem penyimpanan lainnya. Berikut adalah beberapa strategi untuk mengelola inventory secara efektif dalam konteks material handling dan racking activities:

  1. Memilih Sistem Penyimpanan yang Tepat. Pemilihan sistem penyimpanan yang tepat adalah kunci untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas dalam pengelolaan inventory. Perusahaan harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti kapasitas, tata letak, dan kebutuhan spesifik produk sebelum memilih sistem penyimpanan yang sesuai. Beberapa sistem penyimpanan umum meliputi rak palet, rak drive-in, dan rak cantilever.
  2. Mengoptimalkan Tata Letak Gudang. Pengoptimalan tata letak gudang dapat membantu meningkatkan efisiensi dan mengurangi waktu siklus dalam material handling dan racking activities. Tata letak yang efisien akan mempertimbangkan alur kerja, pergerakan produk, dan aksesibilitas. Beberapa strategi untuk mengoptimalkan tata letak gudang termasuk memisahkan area penerimaan dan pengiriman, mengelompokkan produk yang serupa, dan mempertimbangkan metode pengambilan seperti sistem putar.
  3. Menggunakan Teknologi dan Otomatisasi. Penerapan teknologi dan otomatisasi dalam material handling dan racking activities dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi kesalahan manusia. Beberapa contoh teknologi yang dapat digunakan meliputi sistem pengelolaan gudang (WMS), sistem pemilihan suara, dan robot pengambilan. Otomatisasi juga dapat mencakup penggunaan peralatan seperti konveyor dan sistem sortasi.
  4. Pelatihan Karyawan dan Pengembangan Keterampilan. Karyawan yang terampil dan terlatih dengan baik adalah aset penting dalam pengelolaan inventory yang efektif. Perusahaan harus menyediakan pelatihan yang memadai untuk karyawan dalam material handling dan racking activities serta mengembangkan keterampilan mereka dalam menggunakan teknologi dan peralatan yang relevan.
  5. Pemeliharaan dan Keamanan Gudang. Pemeliharaan yang baik dan keamanan gudang adalah komponen penting dalam pengelolaan inventory yang efektif. Perusahaan harus menjaga kebersihan dan perawatan gudang serta menerapkan langkah-langkah keamanan seperti pengawasan video dan sistem akses terkendali.

Dengan menerapkan strategi-strategi ini dalam material handling dan racking activities, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan inventory, mengurangi biaya, dan memperbaiki kinerja operasional secara keseluruhan.

Dan Anda bisa terus belajar bersama dengan kami di Jago Kaizen dan Coach Wang.

Ingin mempelajari secara langsung dan privat mengenai LEAN Supply Chain Management?

Bersama Coach Wang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Kontak Coach Wang