Mahir Paham Dasar Six Sigma Tools

SIX SIGMA Tools DPUDPMOPPMRTY

Mahir Paham Dasar Six Sigma Tools, itu sangat penting!
Ketika Anda terlibat dalam proyek Six Sigma, memahami cara untuk mengukur metrik kinerja proses menjadi sangat penting. Alasannya, hal ini membantu Anda untuk melihat dengan lebih jelas kondisi saat ini dari proses yang sedang Anda kerjakan dan apa nilai dari perubahan yang telah Anda lakukan. Ada empat pengukuran yang biasa Anda gunakan, yaitu Defects Per Unit (DPU), Defects per Million Opportunities (DPMO), Parts per Million Defective (PPM), dan Rolled Throughput Yield (RTY).
Yuk, mari kita bahas satu persatu sehingga Anda bisa menjadi lebih paham dan akan mahir ketika mempraktekannya dalam proyek-proyek improvement Six Sigma!

Defect dan Defective

Mari kita bicara tentang dua kata yang sangat penting dalam dunia Six Sigma, yaitu ‘defect’ dan ‘defective’. Meski tampak serupa, tapi sebenarnya mereka memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Yuk, kita bahas satu per satu.

Bayangkan kita sebagai pengrajin handphone. Setiap hari, kita merakit komponen demi komponen dengan teliti. Tapi, tidak selalu semuanya berjalan mulus. Ada kalanya kita menemukan tombol yang keras, layar yang sedikit buram, atau baterai yang susah diisi. Inilah yang kita sebut sebagai ‘defect’ atau kesalahan.

Nah, dalam satu handphone, bisa jadi ada lebih dari satu defect. Misalnya, ada handphone yang tombolnya keras dan layarnya buram. Dalam kasus ini, kita bilang handphone tersebut memiliki dua defect.

Sekarang, mari kita beralih ke ‘defective’. Kata ini kita gunakan untuk menjelaskan handphone yang sudah tidak bisa kita jual lagi karena memiliki terlalu banyak defect. Jadi, jika kita merasa bahwa handphone dengan tombol keras dan layar buram tadi sudah tidak layak jual, maka kita katakan handphone tersebut ‘defective’.

Misalkan dalam satu hari, kita merakit 100 handphone dan menemukan 200 defect. Maka, rata-rata defect per handphone (atau yang biasa disebut DPU) adalah 200 / 100 = 2.

Namun, dari 100 handphone tersebut, mungkin hanya 10 handphone yang kita anggap memiliki terlalu banyak defect dan tidak bisa kita jual. Jadi, jumlah handphone yang ‘defective’ adalah 10.

Semoga dengan penjelasan ini, Anda bisa lebih paham apa bedanya ‘defect’ dan ‘defective’. Ingat, dalam Six Sigma, setiap kata memiliki makna sendiri dan penting untuk dimengerti agar kita bisa mengukur dan meningkatkan kualitas dengan lebih baik.


“Dapatkan bimbingan ahli untuk menerapkan Lean Six Sigma dalam bisnismu dengan PT Mitra Prima Produktivitas dan Coach Wawang yang didukung oleh pembicara dan konsultan senior berlisensi internasional.
Ayo, bergabung sekarang!”


Defects Per Unit (DPU)

Defects Per Unit (DPU) adalah metrik Six Sigma yang mengukur rata-rata jumlah defect atau kesalahan yang ditemukan dalam setiap unit produk yang dihasilkan. Ini penting karena memberikan gambaran tentang sejauh mana proses produksi kita mampu menciptakan produk berkualitas tinggi secara konsisten.

Baca lainnya ?  Data Kualitatif dan Kuantitatif pada Penerapan Six Sigma

Mungkin kita bisa membayangkan DPU seperti ini: bayangkan Anda adalah pengrajin handphone yang dengan cermat merakit setiap komponen. Dalam satu hari, Anda merakit 100 handphone. Namun, ketika melakukan pengecekan, Anda menemukan bahwa ada 200 defect yang ditemukan di seluruh unit. Bisa jadi ada unit dengan tombol yang tidak berfungsi, layar yang buram, atau speaker yang tidak berfungsi dengan baik.

Untuk menghitung DPU, yang perlu kita lakukan adalah membagi jumlah total defect dengan jumlah unit yang dihasilkan. Dalam kasus ini, kita memiliki 200 defect yang ditemukan dalam 100 unit handphone, jadi DPU kita adalah 200 / 100 = 2. Ini berarti rata-rata, setiap handphone yang kita produksi memiliki dua defect.

Angka ini menjadi penting ketika kita mulai mencari cara untuk meningkatkan proses produksi kita. Dengan mengetahui DPU kita, kita dapat menetapkan target realistis untuk perbaikan dan memantau kemajuan kita seiring waktu. Selain itu, jika kita melihat DPU kita mulai naik, itu bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam proses produksi kita yang perlu segera ditangani.

Defects per Million Opportunities (DPMO)

Defects per Million Opportunities (DPMO) adalah sebuah metrik dalam Six Sigma yang memberikan gambaran tentang seberapa banyak defect yang muncul dalam setiap juta peluang. Peluang di sini didefinisikan sebagai setiap titik di mana defect bisa terjadi.

Misalkan kita punya sebuah proses produksi handphone. Dalam proses tersebut, ada 10 titik berbeda di mana defect bisa muncul, mulai dari pengecekan bahan baku, perakitan komponen, hingga pengujian akhir.

Jika kita melakukan produksi sebanyak 100 unit handphone dan menemukan total 50 defect dalam seluruh proses tersebut, berapa DPMO kita?

Langkah pertama adalah menghitung total peluang defect. Karena ada 10 titik di mana defect bisa terjadi dan kita memproduksi 100 unit, maka total peluang defect adalah 10 * 100 = 1,000.

Kemudian, untuk menghitung DPMO, kita membagi jumlah total defect (50) dengan total peluang defect (1,000), lalu dikalikan dengan 1 juta. Jadi, DPMO kita adalah (50 / 1,000) * 1,000,000 = 50,000.

Jadi, dalam proses produksi kita, ada 50,000 defect per juta peluang. Dengan mengetahui angka ini, kita bisa memahami sejauh mana kualitas proses produksi kita dan membuat perencanaan untuk melakukan perbaikan jika diperlukan.

Ingatlah bahwa tujuan kita di dalam Six Sigma adalah mengurangi DPMO ini ke angka 3.4, yang berarti hanya 3.4 defect per juta peluang. Meski terdengar seperti tugas yang berat, tapi dengan pendekatan yang sistematis dan komitmen untuk perbaikan berkelanjutan, kita bisa mencapainya. Selamat mencoba!

Parts per Million Defective (PPM)

Parts per Million Defective (PPM) adalah istilah yang digunakan dalam Six Sigma untuk mengukur jumlah unit yang ‘defective’ atau tidak layak jual per satu juta unit. Istilah ini sangat berguna untuk memahami sejauh mana kualitas produksi kita.

Baca lainnya ?  Lean Demand Forecasting

Mari kita ambil contoh produksi handphone lagi. Misalkan dalam satu bulan, kita memproduksi sebanyak 10,000 unit handphone. Dari jumlah tersebut, ada 15 unit yang kita anggap ‘defective’ karena memiliki terlalu banyak defect.

Untuk menghitung PPM, kita perlu mengetahui jumlah unit ‘defective’ per satu juta unit. Caranya adalah dengan membagi jumlah unit ‘defective’ (15) dengan total unit yang diproduksi (10,000), kemudian dikalikan dengan satu juta.

Jadi, PPM kita adalah (15 / 10,000) * 1,000,000 = 1,500.

Angka ini berarti bahwa jika kita memproduksi satu juta unit handphone, kita bisa memperkirakan akan ada 1,500 unit yang ‘defective’. Angka ini bisa kita gunakan sebagai acuan untuk terus meningkatkan kualitas produksi kita.

Ingatlah bahwa dalam Six Sigma, tujuannya adalah selalu untuk mencapai PPM yang rendah. Semakin rendah PPM kita, berarti semakin sedikit unit ‘defective’ yang dihasilkan, dan ini berarti kualitas produksi kita semakin baik. Semoga penjelasan Mahir Paham Dasar Six Sigma Tools membantu!

Rolled Throughput Yield (RTY)

Mari kita bicara tentang Rolled Throughput Yield (RTY), salah satu metrik yang sangat penting dalam Six Sigma. RTY adalah ukuran probabilitas (atau persentase waktu) bahwa proses manufaktur atau layanan akan menghasilkan unit yang bebas defect. RTY memberikan gambaran tentang efisiensi dan efektivitas proses produksi secara keseluruhan.

Mari kita ambil contoh proses perakitan handphone. Misalkan, ada empat langkah utama dalam proses ini: 1) Perakitan komponen internal, 2) Pemasangan layar, 3) Pengisian perangkat lunak, dan 4) Pengecekan dan pengepakan.

Setiap langkah ini memiliki tingkat yield masing-masing, atau persentase unit yang berhasil diproduksi tanpa defect. Misalnya, yield untuk langkah pertama adalah 95%, langkah kedua 90%, langkah ketiga 85%, dan langkah keempat 80%.

Untuk menghitung RTY, kita mengalikan semua yield tersebut: 0.95 * 0.90 * 0.85 * 0.80 = 0.5805 atau 58.05%.

Ini berarti, dari semua handphone yang kita mulai proses perakitannya, hanya 58.05% yang berhasil kita produksi tanpa ada defect sama sekali. Jadi, walaupun masing-masing langkah memiliki yield yang cukup tinggi, namun ketika digabungkan menjadi satu proses keseluruhan, yieldnya jauh lebih rendah.

Melalui RTY, kita bisa melihat lebih jelas bagaimana kinerja proses produksi kita secara keseluruhan dan di mana langkah-langkah yang perlu kita perbaiki untuk meningkatkan yield. Semoga penjelasan ini membantu Anda memahami lebih baik tentang RTY dan bagaimana cara menghitungnya! Mahir Paham Dasar Six Sigma Tools.

SIX-SIGMA-Tools-DPUDPMOPPMRTY
SIX-SIGMA-Tools-DPUDPMOPPMRTY

Aplikasi pada Project Six Sigma ‘DMAIC’

Mari kita ilustrasikan langkah-langkah DMAIC dengan pada sebuah project Six Sigma.

Defects Per Unit (DPU)

  • Define: Misalkan kita mendefinisikan defect pada handphone sebagai layar yang tidak berfungsi, baterai yang tidak mengisi, dan tombol yang tidak berfungsi.
  • Measure: Dalam produksi 1000 handphone, kita menemukan 100 defect.
  • Analyze: Dari 100 defect tersebut, 50 adalah layar yang tidak berfungsi, 30 adalah baterai yang tidak mengisi, dan 20 adalah tombol yang tidak berfungsi.
  • Improve: Kita memutuskan untuk melatih ulang teknisi kita dan mengecek kembali pemasok komponen yang menyediakan layar, karena defect tersebut paling banyak.
  • Control: Setelah melatih ulang teknisi dan mengecek kembali pemasok, kita melakukan audit kualitas dan menemukan penurunan defect menjadi 20 dari 1000 handphone.
Baca lainnya ?  Sistematika Menggemparkan Alur Pikiran Optimal

Defects per Million Opportunities (DPMO)

  • Define: Setiap handphone memiliki 50 peluang untuk terjadi defect (misalnya, setiap komponen dalam handphone).
  • Measure: Dalam produksi 1000 handphone, kita menemukan 100 defect.
  • Analyze: Defect paling banyak terjadi pada layar dan baterai.
  • Improve: Kita mengevaluasi proses produksi dan pemasok komponen layar dan baterai.
  • Control: Setelah melakukan pengecekan kualitas dan memperbaiki proses, kita menemukan penurunan DPMO menjadi 300 dari sebelumnya 2000.

Parts per Million Defective (PPM)

  • Define: Handphone dianggap defective jika memiliki lebih dari 3 defect.
  • Measure: Dari 1000 handphone, kita menemukan 50 yang defective.
  • Analyze: Kebanyakan handphone yang defective memiliki masalah pada layar dan baterai.
  • Improve: Kita mengevaluasi proses dan pemasok layar dan baterai, serta melatih ulang teknisi.
  • Control: Setelah melakukan peningkatan, kita menemukan penurunan PPM menjadi 10000 dari sebelumnya 50000.

Rolled Throughput Yield (RTY)

  • Define: Proses produksi handphone kita memiliki 5 langkah: perakitan, pengujian, pengecekan kualitas, pengepakan, dan pengiriman.
  • Measure: Yield di setiap langkah adalah: 0.98, 0.95, 0.90, 0.99, dan 0.98.
  • Analyze: Langkah dengan yield terendah adalah pengecekan kualitas.
  • Improve: Kita memutuskan untuk melatih ulang tim pengecekan kualitas dan memperbaiki alat pengecekan.
  • Control: Setelah melakukan peningkatan, yield pada langkah pengecekan kualitas meningkat menjadi 0.95, dan RTY keseluruhan menjadi 0.873.

Harap dicatat bahwa angka-angka ini hanya ilustrasi dan mungkin tidak mencerminkan kondisi nyata dalam produksi handphone. Namun, saya harap ini dapat membantu Anda memahami bagaimana kita bisa menerapkan langkah-langkah DMAIC untuk masing-masing pengukuran ini.

Untuk semua upaya perbaikan ini, yang penting adalah konsistensi dan komitmen untuk terus belajar dan meningkat. Itu mungkin membutuhkan waktu dan upaya, tetapi ingatlah bahwa setiap langkah maju, tidak peduli seberapa kecil, adalah kemenangan dalam perjalanan menuju kualitas yang lebih baik.

Tentu saja, ini hanyalah awal. Mahir Paham Dasar Six Sigma Tools. Seiring dengan perjalanan kita dalam meningkatkan kualitas, kita mungkin menemukan metode dan pendekatan baru yang bisa kita coba. Proses perbaikan ini adalah perjalanan, bukan tujuan akhir, dan itu yang membuatnya begitu menarik.

Selamat mencoba! Salam Produktivitas!
Dan Anda bisa terus belajar bersama dengan kami di Jago Kaizen dan Coach Wawang.
Ingin mempelajari secara langsung dan privat tentang LEAN Six Sigma?
Atau Anda ingin mengundang, trainer dan consulting provider?
PT Mitra Prima Produktivitas adalah provider coaching, mentoring, training, dan consulting ternama di Indonesia untuk kinerja Produktivitas dan peningkatan Profitabilitas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Kontak Coach Wang