Kerangka Kerja TPM dalam Supply Chain Management

Kerangka Kerja TPM dalam Supply Chain Management, ini tulisan berat tapi saya percaya hal ini penting untuk Anda para pembaca sekalian.
Dalam konteks Supply Chain Management (SCM), pengelolaan rantai pasokan telah menjadi pendekatan yang populer. Namun, implementasinya membutuhkan investasi besar, terutama dalam teknologi informasi dan fasilitas produksi. Di sinilah TPM-SCM hadir dengan slogan “Dampak Maksimal dari Investasi Minimal”. Artinya, dengan meningkatkan keterampilan karyawan yang ada, kita dapat meningkatkan nilai aset melalui aktivitas kelompok kecil yang membawa perbaikan berkelanjutan pada aset dan sistem yang ada dengan biaya relatif rendah.

Tahapan Evolusi TPM dalam Supply Chain Management

Total Productive Maintenance (TPM) tak hanya berhenti pada pengelolaan mesin dan peralatan. Sebagai suatu pendekatan, TPM telah berkembang melalui tiga tahapan evolusi dari Level I hingga III. Pada tahap awal, fokus utamanya adalah pada penghargaan bagi pabrik yang konsisten dalam menerapkan TPM, yang dikenal dengan TPM Consistent Award. Namun, sejalan dengan perkembangan industri, pendekatan ini diperluas untuk mencakup tahapan rantai pasokan: Plan, Source, Make, dan Deliver. Tujuan utamanya adalah untuk memindahkan pemikiran dari individu dan fasilitas tunggal ke sistem yang lebih holistik. Ini memungkinkan perusahaan untuk beralih dari penekanan pada efisiensi individu ke optimalisasi efisiensi keseluruhan.

Ekspansi Cakupan TPM

Seiring waktu, TPM tak hanya fokus pada manufaktur. Area lain seperti rekayasa produksi, pengembangan produk, hingga departemen administrasi dan penjualan telah dimasukkan dalam lingkup TPM. Bahkan, beberapa perusahaan terkemuka di Jepang telah melibatkan departemen tidak langsung dalam pendekatan TPM mereka. Karakteristik utama dari TPM adalah adanya budaya korporat yang mengejar efisiensi, adanya sistem rinci untuk menghilangkan kerugian, dan keterlibatan karyawan di semua level. Misalnya, sementara TPM-MAKE fokus pada manufaktur, TPM-SCM menekankan pengurangan kerugian dalam sumber daya manajemen, termasuk manusia, peralatan, aset keuangan, dan informasi.

Baca lainnya ?  Efektivitas Rantai Pasokan dan Keberlanjutan Bisnis

TPM-SCM: Sebuah Pendekatan Baru

TPM-SCM memiliki karakteristik khusus. Salah satunya adalah bagaimana perbaikan diterapkan dan dipertahankan oleh karyawan yang telah dilatih melalui aktivitas TPM. Ini bukan hanya tentang meningkatkan kualitas mesin atau proses, tetapi juga tentang meningkatkan kualitas sumber daya manusia di perusahaan. Hal ini menekankan pentingnya pendidikan dan pelatihan karyawan, sehingga mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi masalah, tetapi juga memiliki keterampilan dan pengetahuan untuk memecahkannya.

Organisasi dan Operasi dalam TPM-SCM

Menerapkan TPM-SCM memerlukan organisasi dan operasi yang kuat. Sama seperti TPM-MAKE, organisasi dan operasi menjadi inti dari pelaksanaan yang sistematis. Program TPM-SCM menargetkan elemen-elemen dalam sumbu rantai pasokan Plan-Source-Make-Deliver, memastikan bahwa setiap elemen bekerja dengan optimal dan efisien. Ini menekankan pentingnya melihat rantai pasokan sebagai sebuah sistem yang terintegrasi, di mana setiap bagian saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Pengenalan Konsep TPM-MAKE dalam Rantai Pasokan

Dalam dunia industri, efisiensi adalah kata kunci yang selalu dicari-cari. Salah satu pendekatan yang populer untuk mencapai efisiensi tersebut adalah melalui konsep Total Productive Maintenance atau yang dikenal dengan TPM. Namun, ada satu segmen dalam TPM yang mungkin belum kita kenali sepenuhnya, yaitu TPM-MAKE. Nah, apa sebenarnya TPM-MAKE itu? Mari kita jelajahi bersama.

Kekuatan Inti TPM-MAKE

Rantai pasokan, atau yang biasa kita kenal dengan Supply Chain, memiliki beberapa tahapan penting, yaitu PLAN, SOURCING, MAKE, dan DELIVER. Tahapan MAKE inilah yang menjadi pusat perhatian dalam konsep TPM-MAKE.

Sebagai bagian dari Total Productive Maintenance (TPM), TPM-MAKE memfokuskan diri pada optimalisasi proses produksi atau manufaktur. Lebih spesifik lagi, konsep ini menekankan pada peningkatan kualitas dan produktivitas dalam fase “Make”, yang berkaitan dengan manufaktur, produksi, atau proses bisnis internal.

Kenapa TPM-MAKE Begitu Penting?

Dalam industri manufaktur, setiap detik dan setiap mesin memiliki peran yang sangat penting. Bayangkan saja jika ada mesin yang tiba-tiba berhenti berfungsi atau mengalami kerusakan. Pasti akan mengganggu keseluruhan proses produksi, bukan? Nah, inilah beberapa alasan mengapa TPM-MAKE menjadi begitu krusial:

Mengurangi Kerusakan Melalui Perawatan Terjadwal

Dalam industri manufaktur, mesin dan peralatan menjadi tulang punggung produksi. Oleh karena itu, menjaga agar mesin tetap dalam kondisi prima adalah esensial. Dengan menerapkan perawatan yang terjadwal dan tepat, risiko kerusakan mesin dapat ditekan seminimal mungkin. Mesin yang sering mengalami kerusakan tentu akan menghambat kelancaran produksi. Selain itu, perbaikan yang sering diperlukan juga akan menambah beban biaya. Maka dari itu, perawatan rutin adalah investasi cerdas untuk menjaga mesin agar tetap berfungsi dengan optimal.

Baca lainnya ?  Turning Loss Into Profit

Kualitas Produk yang Tinggi Berkat Mesin yang Terawat

Kualitas produk adalah hal yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Produk yang berkualitas tentu lebih disukai oleh konsumen dan membangun reputasi positif perusahaan di mata pasar. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas produk adalah kondisi mesin yang digunakan dalam proses produksi. Mesin yang selalu terjaga kondisinya, dengan pemeliharaan yang rutin, tentunya akan berfungsi dengan baik dan menghasilkan produk dengan kualitas yang konsisten dan tinggi.

TPM-MAKE dan Efisiensi Produksi

TPM-MAKE bukan sekadar konsep, tetapi adalah pendekatan strategis untuk meningkatkan efisiensi produksi. Salah satu manfaat utama dari pendekatan ini adalah mengurangi waktu henti mesin. Waktu henti, baik karena kerusakan atau perawatan, bisa mengurangi kapasitas produksi dan menghambat produktivitas. Dengan menerapkan konsep TPM-MAKE, kita dapat memastikan bahwa mesin beroperasi dengan maksimal, sehingga proses produksi berjalan lebih lancar dan output yang dihasilkan meningkat.

Penghematan Biaya Melalui Pencegahan dan Peningkatan

Biaya operasional adalah salah satu pertimbangan utama dalam bisnis manufaktur. Kerusakan mesin dan produk cacat tentunya menambah beban biaya. Bayangkan berapa banyak biaya yang bisa kita hemat jika kita mampu mengurangi, atau bahkan menghindari, kerusakan mesin. Selain itu, dengan meningkatkan kualitas produk, kita juga dapat mengurangi biaya yang mungkin timbul akibat retur atau komplain dari konsumen. Dengan demikian, penerapan TPM-MAKE tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga berdampak positif pada keuangan perusahaan.

Membangun Rantai Pasokan yang Efisien dengan TPM-SCM

TPM-SCM, atau Total Productive Maintenance dalam Supply Chain Management, merupakan pendekatan komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi seluruh rantai pasokan. Dasar pemikirannya sederhana namun sangat penting: bukan hanya mesin atau peralatan yang perlu dikelola dengan baik, tetapi seluruh proses bisnis dari hulu ke hilir, mulai dari pemasok hingga pelanggan. Dengan meningkatkan keterampilan karyawan dan mengedepankan budaya perbaikan berkelanjutan, TPM-SCM memastikan bahwa setiap tahapan dalam rantai pasokan bebas dari kerugian yang menghambat produktivitas dan kualitas.

Optimalisasi Rantai Pasokan Melalui Lima Level Penghargaan

Menerapkan TPM-SCM tidaklah instan, tetapi memerlukan pemahaman mendalam dan eksekusi strategis yang berkelanjutan. Terdapat lima level penghargaan yang telah ditetapkan dalam TPM, yang mencerminkan berbagai tahap penerapan konsep ini. Setiap level memfokuskan pada aspek tertentu dari rantai pasokan, dari proses perencanaan, pemasokan, produksi, hingga pendistribusian produk. Dengan memahami setiap level, perusahaan dapat merancang strategi yang paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka, memastikan bahwa setiap langkah yang diambil selaras dengan tujuan bisnis secara keseluruhan.

Baca lainnya ?  Response Time Fulfilment Reduction pada Rantai Pasok

Mengenali dan Mengatasi Kerugian di Seluruh Rantai Pasokan

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan TPM-SCM adalah mengidentifikasi kerugian yang tersembunyi dalam rantai pasokan. Beberapa kerugian mungkin mudah terlihat, misalnya kerusakan pada peralatan. Namun, ada juga kerugian yang lebih abstrak, seperti inefisiensi dalam sistem yang terintegrasi. Kerugian ini bisa bersifat fungsional, yang terkonsentrasi pada satu fungsi bisnis tertentu, atau bersifat proses, yang mempengaruhi beberapa fungsi sekaligus. Dengan pendekatan sistematis yang ditawarkan oleh TPM-SCM, perusahaan dapat meminimalisir kedua jenis kerugian tersebut, membawa operasional bisnis ke tingkat optimalisasi yang lebih tinggi, sekaligus memberikan kepuasan lebih kepada pelanggan dan karyawan.

Mengenal Lima Level Penghargaan dalam TPM-SCM

Dalam perjalanan sebuah perusahaan menerapkan prinsip-prinsip TPM-SCM, ada beberapa tahapan atau ‘level’ yang diakui. Setiap level ini sejatinya merupakan indikator dari sejauh mana perusahaan tersebut telah mengintegrasikan dan mengoptimalkan prinsip-prinsip TPM dalam rantai pasokannya. Nah, lalu apa saja kelima level tersebut? Mari kita jelajahi satu per satu.

  1. Level Awal: Di sini, perusahaan mulai mengenali pentingnya Total Productive Maintenance dalam operasional mereka. Ada upaya dasar untuk mengurangi kerusakan dan meningkatkan efisiensi, namun penerapannya masih terbatas pada area-area tertentu.
  2. Level Lanjutan: Pada tahap ini, perusahaan sudah mulai serius menerapkan TPM dalam operasional sehari-hari. Ada pelatihan khusus bagi karyawan, serta pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai kerugian.
  3. Level Terintegrasi: Penerapan TPM di level ini sudah mencakup hampir seluruh aspek operasional perusahaan, dari produksi hingga distribusi. Ada kerjasama antar-departemen dan semua elemen perusahaan saling mendukung untuk mencapai tujuan bersama.
  4. Level Inovasi: Perusahaan tidak hanya menerapkan TPM secara rutin, namun juga berinovasi. Ada penekanan pada peningkatan berkelanjutan, di mana setiap elemen dalam rantai pasokan terus ditingkatkan berdasarkan feedback dan evaluasi.
  5. Level Kepemimpinan: Di tahap ini, perusahaan telah menjadi contoh atau model bagi perusahaan lain dalam penerapan TPM. Mereka tidak hanya efisien dan produktif, namun juga memiliki budaya kerja yang mendukung inovasi dan keberlanjutan.

Dengan mengetahui kelima level ini, perusahaan dapat menentukan di mana posisi mereka saat ini dan apa langkah selanjutnya yang harus diambil. Sebuah perjalanan yang menarik, bukan? Bagaimana dengan perusahaan Anda? Di level manakah Anda berada saat ini?


Dapatkan bimbingan ahli untuk menerapkan LEAN SUPPLY CHAINS dalam bisnismu dengan PT Mitra Prima Produktivitas dan Coach Wawang yang didukung oleh pembicara dan konsultan senior berlisensi internasional. Ayo, bergabung sekarang!


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Kontak Coach Wang